Geng Motor dari sudut pandang Hukum Kriminologi

  1. 1.      PENGERTIAN GENG MOTOR

 

Kasus kejahatan oleh Geng Sepeda Motor akhir-akhir ini sangat meresahkan masyarakat. Siapa pun yang terlibat di dalamnya, entah oknum aparat atau bukan, aksi anarkis hingga mengambil nyawa orang merupakan aksi kriminal yang sudah tak bisa ditolerir. Secara tak langsung, masalah ini mempunyai efek buruk terhadap pendidikan generasi penerus bangsa ini. Jangan sampai anak-anak mencontoh kelakuan anggota geng tersebut yang sungguh biadab.

Ternyata, Geng Sepeda Motor sudah ada di Jakarta sejak tahun 1915. Kala itu namanya Motorfietsrijders te Batavia.  Menurut catatan Koninlijk Instituut voor Taal, Land en Volkenkunde (KITLV), sepeda motor masuk ke Indonesia pertama kali dibawa oleh seorang berkebangsaan Inggris, John C. Potter pada tahun 1893.  Sehari-hari J.C. Potter bekerja sebagai Masinis Pertama di pabrik gula Oemboel (baca: Umbul) Probolinggo, Jawa Timur. J.C. Potter juga dikenal sebagai penjual mobil yang mendapat kepercayaan Sunan Solo untuk mengurusi pengiriman mobil pertamanya dari Eropa.

Dalam buku “Krèta Sètan (de duivelswagen)” dikisahkan bagaimana John C. Potter memesan sendiri sepeda motor itu ke pabriknya, Hildebrand und Wolfmüller, di Muenchen, Jerman. Sepeda motor itu tiba pada tahun 1893, satu tahun sebelum mobil pertama milik Sunan Solo (merk Benz tipe Carl Benz) tiba di Indonesia. Hal itu menjadikan J.C. Potter sebagai orang pertama di Indonesia yang menggunakan kendaraan bermotor. Selain itu, ada hal yang menarik apabila kita mengamati tahun kedatangan sepeda motor tersebut.

Untuk diketahui, sepeda motor pertama di dunia (Reitwagen) lahir di Jerman pada 1885 oleh Gottlieb Daimler dan Wilhelm Maybach tetapi belum dijual untuk umum. Tahun 1893, sepeda motor pertama yang dijual untuk umum dibuat oleh pabrik sepeda motor Hildebrand und Wolfmüller di Muenchen, Jerman. Sepeda motor ini pertama kali masuk ke Amerika Serikat pada tahun 1895 ketika seorang pemain sirkus asal Perancis membawanya ke New York.

Jadi, meski yang membawanya bukan orang pribumi Indonesia, tetapi sebuah hal yang luar biasa ketika sepeda motor komersial pertama di dunia ternyata langsung dikirim ke Indonesia pada tahun pertama pembuatannya. Terlebih lagi, baru dua tahun kemudian sepeda motor komersial pertama tersebut masuk Amerika Serikat. Jadi, sepeda motor yang pertama kali masuk Indonesia merupakan sepeda motor pertama di dunia juga.

 

  1. 2.      KRONOLOGI

 

26 Februari 2012

Ratusan kawanan geng motor melakukan pengerusakan Kantor Lippo Bank. Diketahui bahwa aksi pengerusakan yang dilakukan ratusan kawanan geng motor terjadi sekira pukul 03:00 WIB Sabtu dini hari. Mereka merusak ruang Sental Pelayanan Kepolisian (SPK) Polresta Pekanbaru dan sejumlah Rumah Toko (ruko) yang berada dekat Mapolresta Pekanbaru. Saat ini pihak Kepolisian tengah memburu  pelaku.

26 September 2012

Yang menjadi korban adalah sepasang kekasih,  sekitar pukul 22.00 di depan tower XL, Jalan Tuanku Tambusai Ujung, Payung Sekaki. Dalam aksinya itu geng motor yang memakai 8 unit sepeda motor tidak saja merampas dompet berisikan uang tunai Rp 1 juta dan satu unit HP merek Blackberry Gemini 3 G warna hitam milik korban saja, tapi mereka juga menganiaya korban. Tidak terima atas peristiwa itu  Akmal Adi Darma (21) warga Jalan Wonosari, Marpoyan Damai dan Vera Arlina  (20) warga Jalan Tamtama Gang Parip, Pekanbaru melapor ke kantor polisi.  Menurut pengakuan korban dalam laporannya, Rabu malam itu ia melintas dengan teman prianya dengan sepeda motor di Jalan Tuanku Tambusai Ujung. Setibanya didepan kantor XL tiba-tiba datang sebanyak 8 unit sepeda motor yang diduga geng motor menyelip korban sehingga korban terjatuh. Melihat korban terjatuh, pelaku langsung berhenti dan  memukuli Akmal. Vera yang merasa sangat ketakutan malam itu hanya diam saja dan tidak bisa berbuat apa-apa. Setelah memukul Akmal para geng motor merampas dompet dan HP Blackberry Akmal, lalu kabur. Ketika geng motor itu kabur korban sempat melihat nomor polisi satu unit sepeda motor BM 3478 MN. Atas peristiwa itu korban mengalami kerugian total sebesar Rp 3 juta

 

30 September 2012

  • Geng motor membacok seorang warga yang melintas di depan mereka. Geng motor ini menyangka warga yang melintas pagi itu merupakan kelompok geng motor lain. Korbannya, sempat dikeroyok dan dibacok dengan samurai. Tangan korbanpun terkoyak akibat sabetan samurai. Korban saat ini terbaring di RSUD Arifin Ahmad.
  • ·         Manto (30) warga Sigunggung, Labuh Baru bersama Yogi (19) warga Damai Langgeng, yang merupakan MC lokal di Pekanbaru ini juga menjadi korban pemukulan anggota geng motor pada Sabtu dinihari sekitar Pukul 01.30 (30/9) di Jembatan Siak III.

01 Oktober 2012

Polresta Pekanbaru, Komes Adang Ginanjar,  berhasil membekuk geng motor yang melakukan pembacokan. Pelaku diperiksa oleh kepolisian.

02 Oktober 2012

Sekitar pukul 02.30 WIB menangkap empat orang geng motor di Jalan Kartini. Empat orang tersebut diketahui dari Geng Motor Ghost Night. Satu dari empat orang yang ditangkap tersebut bernama Iwen (21), warga Jalan Imam Munandar Ketua Geng Motor Ghost Night. Iwen diduga pelaku pengeroyokan Bukit Raya, Jalan WR Supratman, depan MTQ dan Jalan Diponegoro. Iwen dan tiga temannya ditangkap di Jalan Pawon, Selasa (2/10/2012) sekitar pukul 02.30 WIB. Ketika dilakukan penggeledahan petugas menemukan sangkur yang diselipkan Iwen di punggungnya. Malam itu juga keempat yang diduga komplotan geng motor itu digiring ke Mapolresta dan saat ini masih menjalani proses pemeriksaan oleh penyidik. Sementara itu Iwen mengenakan baju merah dengan kaki bekas luka hanya bisa tertatih-tatih saat digiring petugas dari ruang penyidik ke sel. Ketika ditanya Iwen mengaku dari geng motor Ghost Night.

* Informasi dihimpun Tribun Pekanbaru (Tribun Network)

 

  1. 3.      KARAKTERISTIK KEANGGOTAAN KENAKALAN REMAJA

 

Karakteristik anggota geng motor  adalah sebagai berikut: usia antara 14-32 tahun; kebanyakan berjenis kelamin laki-laki; sangat bangga dengan statusnya sebagai salah satu anggota geng motor; agresif dan menantang bahaya; tingkat pendidikan antara SMP sampai dengan perguruan tinggi; menjadi anggota geng motor atas ajakan rekan sekolah maupun lingkungan.

Apabila geng mereka diekspos di media massa, mereka merasa sangat bangga, sehingga semakin berlomba-lomba untuk lebih banyak melakukan perilaku yang mereka anggap menimbulkan sensasi yang akan dipublikasikan oleh media. Kadang-kadang mereka tidak menyadari bahwa perbuatan tersebut dapat dikategorikan sebagai perbuatan kriminal. Misalnya merampas milik orang lain, melakukan tindak kekerasan, tawuran antargeng, dan melakukan pembunuhan terhadap anggota geng lain maupun pengendara motor lain atau masyarakat.

Kadang mereka tidak sadar bahwa ada kemungkinan terbuka peluang bagi para penjahat yang menyusup ke dalam geng motor, sehingga masyarakat menganggap perilaku kriminal tersebut dilakukan oleh para remaja yang sebenarnya tidak berniat untuk melakukan tindak kriminal. Penyusupan tersebut sulit untuk diidentifikasikan, karena jumlah motor di Kota Bandung sangat banyak. Dan ketika melakukan operasi, mereka menggunakan helm cakil yang menutupi seluruh wajah. Jadi sulit sekali mengidentifikasi pelaku apalagi dengan kostum dan motor yang relatif sama bentuk dan mereknya.

Inilah yang membuat polisi melakukan tindakan represif dan mempermaklumkan tindakan tembak di tempat untuk para pelaku kekerasan dari geng motor. Namun demikian, polisi harus berhati-hati menumpas perilaku kriminal tersebut, sehingga masyarakat tidak resah, terutama bagi para orang tua yang kebetulan anak remajanya terlibat dalam geng motor. Polisi harus benar-benar bekerja keras untuk menyisir mana remaja yang delinquent dan mana para kriminal yang berkedok geng motor juga provokator.

Membubarkan atau melarang tumbuhnya geng motor bukan merupakan jalan keluar yang baik, bahkan akan jadi bumerang bagi penegakan hukum. Karena akan melahirkan masalah sosial yang baru; remaja akan kehilangan ruang publik untuk berekspresi diri, dan mencari kegiatan lain yang boleh jadi lebih patologis wujudnya, misalnya kebut-kebutan di jalan.

 

 

 

 

 

 

 

 

 

  1. 4.      ANALISA PENYEBAB KENAKALAN GENG MOTOR

 

Faktor internal:

1)      Krisis identitas

Perubahan biologis dan sosiologis pada diri remaja memungkinkan terjadinya dua bentuk integrasi. Pertama, terbentuknya perasaan akan konsistensi dalam kehidupannya. Kedua, tercapainya identitas peran. Kenakalan remaja terjadi karena remaja gagal mencapai masa integrasi kedua.

2)      Kontrol diri yang lemah

Remaja yang tidak bisa mempelajari dan membedakan tingkah laku yang dapat diterima dengan yang tidak dapat diterima akan terseret pada perilaku nakal. Begitupun bagi mereka yang telah mengetahui perbedaan dua tingkah laku tersebut, namun tidak bisa mengembangkan kontrol diri untuk bertingkah laku sesuai dengan pengetahuannya.

 

Faktor eksternal:

1)      Keluarga

Perceraian orangtua, tidak adanya komunikasi antar anggota keluarga, atau perselisihan antar anggota keluarga bisa memicu perilaku negatif pada remaja. Pendidikan yang salah di keluarga pun, seperti terlalu memanjakan anak, tidak memberikan pendidikan agama, atau penolakan terhadap eksistensi anak, bisa menjadi penyebab terjadinya kenakalan remaja.

2)      Teman sebaya yang kurang baik

3)      Komunitas/lingkungan tempat tinggal yang kurang baik

 

 

  1. PENANGGULANGAN KENAKALAN REMAJA

 

Jika melihat kenakalan remaja yang dilakukan oleh geng motor di Kota Pekanbaru, maka saran yang dapat diajukan adalah :

1)      Sebaiknya masalah tindak pidana yang dilakukan oleh kelompok geng bermotor di Kota Pekanbaru diatur secara khusus dalam sebuah peraturan daerah (perda) yang tentu saja secara yuridis harus mengacu pada perundang-undangan yang lebih tinggi. Isi perda memuat ketentuan penanganan masalah kejahatan remaja yang meliputi empat unsur, yaitu unsur preventif, unsur represif, unsur kuratif, dan unsur koordinatif. Ketentuan sanksinya dibuat lebih tegas, tidak hanya terhadap pelaku tetapi juga kepada anggota kelompok geng lainnya yang mempengaruhi untuk melakukan tindak kejahatan. Dan yang sangat penting pula adanya penyuluhan hukum kepada anggota geng motor agar mereka ”melek hukum”.

2)      Kedua, penanganan masalah tindak pidana yang dilakukan geng motor harus melibatkan berbagai pihak dalam masyarakat. Upaya pembinaan dilakukan tidak hanya terhadap pelaku tindak pidana juga terhadap semua unsur dalam masyarakat, yaitu aparat penegak hukum, instansi terkait, dan masyarakat luas. Karena adanya aparat penegak hukum yang profesional mutlak diberlakukan dalam upaya penegak hukum. Begitu juga pada masyarakat, dengan dilakukannya pembinaan tersebut, diharapkan terjadi peningkatan kesadaran hukum masyarakat untuk mematuhi peraturan yang ada, tidak melakukan ejekan dan sangkaan buruk terhadap remaja yang tergabung dalam kelompok geng bermotor. Terutama peran pihak keluarga remaja diperlukan agar dapat lebih memperhatikan kebutuhan dan kasih sayang yang seharusnya didapatkan oleh para remaja seusianya, serta memberikan bimbingan yang lebih baik terhadap apa yang mereka lakukan.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s