Analisa Putusan Hakim “Pidana Mati Tindak Pidana Narkotika”

KATA PENGANTAR

Segala puji syukur kami ucapkan kepada Tuhan yang Maha Esa, atas berkatnya sehingga kami dapat menyelesaikan makalah ini. Kami juga berterimakasih kepada dosen pengajar mata kuliah Hukum Kriminologi Fakultas Hukum Universitas Riau yang mengajar dan membimbing kami dalam proses belajar mengajar pada masa perkuliahan.
Semoga makalah ini berkenan dan bermanfaat bagi mahasiswa/i Fakultas Hukum Universitas Riau. Untuk segala kekurangan dan kelemahan dalam makalah ini, kami mohon maaf. Kami terima kritik dan sarannya.

Pekanbaru, 6 Oktober 2012

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………..1
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang………………………………………………………………………………..3
2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………3
3. Tujuan……………………………………………………………………………………………4
4. Metode Pembahasan………………………………………………………………………..4
5. Manfaat…………………………………………………………………………………………4

BAB II PEMBAHASAN
1. Teori Pengantar
A. Pengertian Kriminologi……………………………………………………………..5
B. Pengertian Aborsi……………………………………………………………………..5
C. Dasar Hukum Aborsi………………………………………………………………..7
2. Cara Seseorang Melakukan Aborsi………………………………………………….11
3. Analisa Penyebab Aborsi dalam Masyarakat…………………………………….15
4. Pencegahan dan Penanggulangan Aborsi………………………………………….17

BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan………………………………………………………………………………..19
2. Saran…………………………………………………………………………………………19
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………20

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang
Kehidupan merupakan suatu anugerah yang diberikan oleh Tuhan yang maha Esa yang harus dihormati oleh setiap orang. Kehidupan yang diberikan kepada setiap manusia merupakan Hak Asasi Manusia yang hanya boleh dicabut oleh Pemberi kehidupan tersebut. Berbicara mengenai aborsi tentunya kita berbicara tentang kehidupan manusia karena aborsi erat kaitanya dengan wanita dan janin yang ada dalam kandungan wanita.
Pengguguran kandungan (aborsi) selalu menjadi perbincangan, baik dalam forum resmi maupun tidak resmi yang menyangkut bidang kedokteran, hukum maupun disiplin ilmu lain. Aborsi merupakan fenomena sosial yang semakin hari semakin memprihatinkan. Keprihatinan itu bukan tanpa alasan, karena sejauh ini perilaku pengguguran kandungan banyak menimbulkan efek negatif baik untuk diri pelaku mapun pada masyarakat luas. Hal ini disebabkan karena aborsi menyangkut norma moral serta hukum suatu kehidupan bangsa. Dalam hukum positif di Indonesia, tindakan aborsi pada sejumlah kasus tertentu dapat dibenarkan apabila merupakan aborsi provokatus medikalis. Sedangkan aborsi yang digeneralisasi menjadi suatu tindak pidana lebih dikenal sebagai abortusi provokatus criminalis.
Untuk itu kami akan membahas apa yang menyebabkan tingginya tingkat aborsi dalam masyarakat, ditinjau dari sisi kriminologis, dan dapat menjelaskan hal ini kepada masyarakat.

2. Rumusan Masalah
Permasalah yang akan dibahas dalam makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Teori Pengantar
2. Dasar Hukum Aborsi
3. Cara-cara Melakukan Aborsi
4. Penyebab Aborsi
5. Pencegahan dan Penanggulangannya
3. Tujuan
Setelah mempelajari materi ini, diharapkan seluruh mahasiswa dapat mengetahui dan memahami jawaban dari rumusan masalah yang dipaparkan dalam makalah ini.

4. Metode Pembahasan
Metode yang digunakan dalam membahas makalah ini adalah dengan membahas persub judul, seperti yang telah dituliskan dalam rumusan masalah, yaitu terdapat lima (5) masalah yang akan dibahas satu-persatu.

5. Manfaat
Adapun yang menjadi manfaat dari penulisan makalah ini adalah :
1. Untuk memberikan masukan dan supan ilmu kepada mahasiswa mengenai apa yang dimaksud dengan Kriminologi dan Aborsi
2. Mahasiswa dapat mengetahui apa yang menjadi dasar hukum tindak aborsi
3. Mahasiswa mengetahui cara-cara melakukan aborsi, baik dengan cara medis maupun tidak.
4. Memahami penyebab tingginya tindak aborsi dalam masyarakat dilihat dari sisi kriminologi.
5. Mengetahui pencegahan dan penanggulangannya.

BAB II
PEMBAHASAN

A. TEORI PENGANTAR
1. Pengertian Kriminologi
Kriminologi merupakan ilmu pengetahuan yang mempelajari tentang kejahatan. Nama kriminologi yang ditemukan oleh P. Topinard (1830-1911) seorang ahli antropologis Perancis, secara harfiah berasal dari kata “crimen” yang berarti kejahatan atau penjahat dan “logos” yang berarti ilmu pengetahuan, sehingga kriminologi dapat berarti ilmu tentang kejahatan atau penjahat.
Beberapa sarjana memberikan pengertian yang berbeda mengenai kriminologi ini. Diantaranya adalah:
o Bonger memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan menyelidiki gejala kejahatan seluas-luasnya.
o Sutherland merumuskan kriminologi sebagai keseluruhan ilmu pengetahuan yang bertalian dengan perbuatan jahat sebagai gejala sosial (The body of knowledge regarding crime as a sosial phenomenon).
o Paul Moedigdo Moeliono memberikan definisi Kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang mempelajari kejahatan sebagai masalah manusia.
o J. Contstant memberikan definisi kriminologi sebagai ilmu pengetahuan yang bertujuan menentukan faktor-faktor yang menjadi sebab-musabab terjadinya kejahatan atau penjahat.
2. Pengertian Aborsi
Gugur kandungan atau aborsi (bahasa Latin: abortus) adalah berhentinya kehamilan sebelum usia kehamilan 20 minggu yang mengakibatkan kematian janin. Apabila janin lahir selamat (hidup) sebelum 38 minggu namun setelah 20 minggu, maka istilahnya adalah kelahiran prematur. Istilah abortus dipakai untuk menunjukkan pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup di luar kandungan. Abortus sebagai pengakhiran kehamilan sebelum janin mencapai berat 500 gram atau usia kehamilan 20 minggu.
Adapun pengertian pengguguran kandungan (abortus) yang diberikan oleh pakar ilmu hukum adalah lahirnya buah kandungan sebelum waktunya oleh perbuatan seseorang yang bersifat sebagai perbuatan pidana kejahatan.
Masalah abortus atau lebih dikenal dengan istilah pengguguran kandungan, keberadaannya merupakan suatu fakta yang tidak dapat dipungkiri dan bahkan menjadi bahan bahasan yang menarik serta dilema yang saat ini menjadi fenomena sosial . Abortus Provocatus merupakan cara yang paling sering digunakan mengakhiri kehamilan yang tidak diinginkan, meskipun merupakan cara yang paling berbahaya.
Abortus pada dasarnya dapat dibagi atas dua bagian besar yaitu :
1. Abortus Provocatus Therapeuticus
Merupakan Abortus Provocatus yang di lakukan atas dasar pertimbangan kedokteran dan di lakukan oleh tenaga yang mendapat pendidikan khusus serta dapat bertindak secara profesional .
2. Abortus Provocatus Criminalis.
Merupakan Abortus Provokatus yang secara sembunyi-sembunyi dan biasanya oleh tenaga yang tidak terdidik secara khusus, termasuk ibu hamil yang menginginkan perbuatan Abortus Provocatus tersebut. Abortus Provocatus Criminalis merupakan salah satu penyebab kematian wanita dalam masa subur di negara-negara berkembang. Abortus (pengguguran kandungan) merupakan masalah yang cukup pelik, karena menyangkut banyak aspek kehidupan manusia yang berkaitan dengan etika, moral dan agama serta hukum.

3. Dasar Hukum Tindak Pidana Aborsi
a. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan
Dengan disyahkannya Undang-undang Nomor 36 Tahun 2009 Tentang Kesehatan (Undang-Undang Kesehatan) menggantikan Undang-undang kesehatan sebelumnya yaitu Undang-undang Nomor 23 tahun 1992 tentang kesehatan, permasalahan aborsi memperoleh legitimasi dan penegasan. Secara eksplisit, dalam Undang-undang ini terdapat pasal-pasal yang mengatur mengenai aborsi, meskipun dalam praktek medis mengandung berbagai reaksi dan menimbulkan kontroversi diberbagai lapisan masyarakat. Meskipun, Undang-undang melarang praktik aborsi, tetapi dalam keadaan tertentu terdapat kebolehan. Ketentuan pengaturan aborsi dalam Undang-undang Kesehatan dituangkan dalam Pasal 75, Pasal 76 dan Pasal 77 sebagai berikut :
Pasal 75
1) Setiap orang dilarang melakukan aborsi.
2) Larangan sebagaimana dimaksud pada ayat (1) dapat dikecualikanberdasarkan:
a. indikasi kedaruratan medis yang dideteksi sejak usia dini kehamilan, baik yang mengancam nyawa ibu dan/atau janin, yang menderita penyakit genetik berat dan/atau cacat bawaan, maupun yang tidak dapat diperbaiki sehingga menyulitkan bayi tersebut hidup di luar kandungan; atau
b. kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
3) Tindakan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) hanya dapat dilakukan setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
4) Ketentuan lebih lanjut mengenai indikasi kedaruratan medis dan perkosaan,sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dengan Peraturan Pemerintah.

Pasal 76
Aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 hanya dapat dilakukan:
1) sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis;
2) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri;
3) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan;
4) dengan izin suami, kecuali korban perkosaan; dan
5) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.

Pasal 77
Pemerintah wajib melindungi dan mencegah perempuan dari aborsi sebagaimana dimaksud dalam Pasal 75 ayat (2) dan ayat (3) yang tidak bermutu, tidak aman, dan tidak bertanggung jawab serta bertentangan dengan norma agama dan ketentuanperaturan perundang-undangan.
Berdasarkan ketentuan Undang-undang Kesehatan tersebut jika dikaitkan dengan Aborsi kehamilan yang tidak diharapkan akibat perkosaan, maka dapat disimpulkan sebagai berikut :
1) Secara umum praktik aborsi dilarang;
2) Larangan terhadap praktik dikecualikan pada beberapa keadaan, kehamilan akibat perkosaan yang dapat menyebabkan trauma psikologis bagi korban perkosaan.
Selain itu tindakan medis terhadap aborsi kehamilan yang tidak diharapkan akibat perkosaan hanya dapat dilakukan apabila sebagai berikut :
1) setelah melalui konseling dan/atau penasehatan pra tindakan dan diakhiri dengan konseling pasca tindakan yang dilakukan oleh konselor yang kompeten dan berwenang.
2) dilakukan sebelum kehamilan berumur 6 (enam) minggu dihitung dari hari pertama haid terakhir, kecuali dalam hal kedaruratan medis.
3) oleh tenaga kesehatan yang memiliki keterampilan dan kewenangan yang memiliki sertifikat yang ditetapkan oleh menteri.
4) dengan persetujuan ibu hamil yang bersangkutan.
5) penyedia layanan kesehatan yang memenuhi syarat yang ditetapkan oleh Menteri.
Kesimpulannya, bahwa Undang-undang Kesehatan memperbolehkan praktik aborsi terhadap kehamilan akibat perkosaan dengan persyaratan dilakukan oleh tenaga yang kompeten, dan memenuhi ketentuan agama dan perundang-undangan yang berlaku.
b. Berdasarkan KUHP
Pengguguran (abortus) provocatus criminalis apapun alasannya tidak dapat dibenarkan oleh norma hukum pidana ataupun norma hukum agama. Hal ini disebabkan bahwa pengguguran kandungan ini sangat bertentangan dengan nilai yang hidup dalam masyarakat, dan merupakan suatu pembunuhan yang dilakukan terhadap janin yang ada dalam kandungan yang seharusnya dilindungi. Alasan inilah sehingga KUHP pada Buku II bab XIX menentukannya sebagai kejahatan terhadap nyawa orang, khususnya terhadap nyawa janin.
Abortus provocatus criminalis tersebut di dalam norma hukum yang diatur secara tegas dalam rumusan Pasal 346, 367, 348, dan 349 KUHP. Dengan demikian abortus jenis ini memberikan ancaman pidana bagi yang melakukannya.
Kejahatan terhadap nyawa janin dapat dibagi menjadi empat golongan menurut kualifikasi pelakunya dengan keadaan yang menyertainya sebagai berikut :
1. Perempuan itu yang melakukan sendiri atau menyuruh untuk itu menurut Pasal 346 KUHP. Dengan memperhatikan rumusan Pasal 346 KUHP tersebut terkandung maksud oleh pembentuk Undang-Undang untuk melindungi nyawa janin dalam kandungan meskipun janin itu kepunyaan perempuan yang mengandung.
2. Orang lain melakukan tanpa persetujuan wanita itu menurut Pasal 347 KUHP. Adapun pengguguran kandungan (abortus) yang dilakukan oleh orang lain tersebut tanpa izin perempuan yang digugurkan kandungannya itu sehingga perempuan tersebut meninggal. Oleh karena itu, ancaman pidananya diperberat atau ditambah menjadi hukuman penjara lima belas tahun menurut Pasal 347 ayat 2 KUHP.
3. Orang yang melakukan dengan persetujuan perempuan itu menurut Pasal 348 KUHP. Adapun unsur-unsur yang terkandung didalam Pasal 348 KUHP adalah sebagai berikut :
• Subjeknya adalah orang lain.
• Menggugurkan atau mematikan kandungan.
• Dengan izin perempuan yang digugurkan kandungannya.

4. Bagi orang-orang tertentu diberikan pemberatan pidana dan pidana tambahan menurut Pasal 349 KUHP. Di dalam Pasal 349 KUHP ini mengatur mengenai orang-orang tertentu yang dipidananya diperberat. Adapun orang-orang tertentu yang dimaksud dalam rumusan Pasal 349 KUHP menurut R. Soesilo (1985 : 244) adalah sebagai berikut :
“Jika seorang tabib, dukun beranak atau tukang obat membantu dalam kejahatan yang tersebut dalam Pasal 346, atau bersalah atau membantu dalam salah satu kejahatan yang diterangkan dalam Pasal 347 dan 348, maka hukuman yang ditentukan dalam itu dapat ditambah dengan sepertiganya dan dapat dipecat dari jabatannya yang digunakan untuk melakukan kejahatan itu”.

Berdasarkan uraian mengenai rumusan Pasal 346, 347, 348 dan 349 KUHP yang mengatur megenai macam-macam pengguguran kandungan (abortus), maka adapun juga unsur-unsur pokok yang terdapat didalam Pasal 346, 347, 348, dan 349 KUHP sebagai berikut:
1) Adanya perempuan yang mengandung atau hamil.
Menurut Pasal-Pasal tentang pengguguran kandungan (abortus) provocatus criminalis, diisyaratkan adanya wanita yang mengandung, yang harus dibuktikan adanya. Dalam hal ini menjadi kewajiban ilmu kedokteran untuk dapat menetapkan kapan dan adanya perempuan hamil. Pengetahuan kedokteran yang teknis dan penyidikan kedokteran dalam hal ini memegang peranan yang penting.

2) Perempuan yang buah kandungannya hidup.
Jika diperhatikan isi dari Pasal 346, 347, 348, dan 349 KUHP tidak disebut dengan jelas tentang itu. Oleh karena itu undang-undang tidak menyebutkan dengan jelas, sebagaimana lazimnya terdapat pendapat yang berbeda-beda. Di satu pihak berpendapat, oleh karena undang-undang tidak merumuskan dengan jelas, maka tidak perlu dipersoalkan buah kandungan yang digugurkan atau dimatikan, masih

3) Kandungan itu digugurkan atau dimatikan atau menyuruh untuk itu dengan sengaja.
Perbuatan ini lebih cenderung kepada masalah hubungan kausal dan masalah sikap
batin yaitu gugurnya kandungan adalah musabab dari perbuatan yang disengaja itu.

B. CARA-CARA MELAKUKAN ABORSI

Berikut ini merupakan cara-cara aborsi yang dilakukan oleh tim medis :
1. Metode Penyedotan (Suction Curettage)
Pada 1-3 bulan pertama dalam kehidupan janin, aborsi dilakukan dengan metode penyedotan. Teknik inilah yang paling banyak dilakukan untuk kehamilan usia dini. Mesin penyedot bertenaga kuat dengan ujung tajam dimasukkan ke dalam rahim lewat mulut rahim yang sengaja dimekarkan. Penyedotan ini mengakibatkan tubuh bayi berantakan dan menarik ari-ari (plasenta) dari dinding rahim. Hasil penyedotan berupa darah, cairan ketuban, bagian-bagian plasenta dan tubuh janin terkumpul dalam botol yang dihubungkan dengan alat penyedot ini. Ketelitian dan kehati-hatian dalam menjalani metode ini sangat perlu dijaga guna menghindari robeknya rahim akibat salah sedot yang dapat mengakibatkan pendarahan hebat yang terkadang berakhir pada operasi pengangkatan rahim. Peradangan dapat terjadi dengan mudahnya jika masih ada sisa-sisa plasenta atau bagian dari janin yang tertinggal di dalam rahim. Hal inilah yang paling sering terjadi yang dikenal dengan komplikasi paska-aborsi.

2. Metode D&C – Dilatasi dan Kerokan
Dalam teknik ini, mulut rahim dibuka atau dimekarkan dengan paksa untuk memasukkan pisau baja yang tajam. Bagian tubuh janin dipotong berkeping-keping dan diangkat, sedangkan plasenta dikerok dari dinding rahim. Darah yang hilang selama dilakukannya metode ini lebih banyak dibandingkan dengan metode penyedotan. Begitu juga dengan perobekan rahim dan radang paling sering terjadi. Metode ini tidak sama dengan metode D&C yang dilakukan pada wanita-wanita dengan keluhan penyakit rahim (seperti pendarahan rahim, tidak terjadinya menstruasi, dsb). Komplikasi yang sering terjadi antara lain robeknya dinding rahim yang dapat menjurus hingga ke kandung kencing.

3. PIL RU 486
Masyarakat menamakannya “Pil Aborsi Perancis”. Teknik ini menggunakan 2 hormon sintetik yaitu mifepristone dan misoprostol untuk secara kimiawi menginduksi kehamilan usia 5-9 minggu. Di Amerika Serikat, prosedur ini dijalani dengan pengawasan ketat dari klinik aborsi yang mengharuskan kunjungan sedikitnya 3 kali ke klinik tersebut. Pada kunjungan pertama, wanita hamil tersebut diperiksa dengan seksama. Jika tidak ditemukan kontra-indikasi (seperti perokok berat, penyakit asma, darah tinggi, kegemukan, dll) yang malah dapat mengakibatkan kematian pada wanita hamil itu, maka ia diberikan pil RU 486.
Kerja RU 486 adalah untuk memblokir hormon progesteron yang berfungsi vital untuk menjaga jalur nutrisi ke plasenta tetap lancar. Karena pemblokiran ini, maka janin tidak mendapatkan makanannya lagi dan menjadi kelaparan. Pada kunjungan kedua, yaitu 36-48 jam setelah kunjungan pertama, wanita hamil ini diberikan suntikan hormon prostaglandin, biasanya misoprostol, yang mengakibatkan terjadinya kontraksi rahim dan membuat janin terlepas dari rahim. Kebanyakan wanita mengeluarkan isi rahimnya itu dalam 4 jam saat menunggu di klinik, tetapi 30% dari mereka mengalami hal ini di rumah, di tempat kerja, di kendaraan umum, atau di tempat-tempat lainnya, ada juga yang perlu menunggu hingga 5 hari kemudian. Kunjungan ketiga dilakukan kira-kira 2 minggu setelah pengguguran kandungan, untuk mengetahui apakah aborsi telah berlangsung. Jika belum, maka operasi perlu dilakukan (5-10 persen dari seluruh kasus). Ada beberapa kasus serius dari penggunaan RU 486, seperti aborsi yang tidak terjadi hingga 44 hari kemudian, pendarahan hebat, pusing-pusing, muntah-muntah, rasa sakit hingga kematian. Sedikitnya seorang wanita Perancis meninggal sedangkan beberapa lainnya mengalami serangan jantung.

4. Suntikan Methotrexate (MTX)
Prosedur dengan MTX sama dengan RU 486, hanya saja obat ini disuntikkan ke dalam badan. MTX pada mulanya digunakan untuk menekan pertumbuhan pesat sel-sel, seperti pada kasus kanker, dengan menetralisir asam folat yang berguna untuk pemecahan sel. MTX ternyata juga menekan pertumbuhan pesat trophoblastoid – selaput yang menyelubungi embrio yang juga merupakan cikal bakal plasenta. Trophoblastoid tidak saja berfungsi sebagai ‘sistim penyanggah hidup’ untuk janin yang sedang berkembang, mengambil oksigen dan nutrisi dari darah calon ibu serta membuang karbondioksida dan produk-produk buangan lainnya, tetapi juga memproduksi hormon hCG (human chorionic gonadotropin), yang memberikan tanda pada corpus luteum untuk terus memproduksi hormon progesteron yang berguna untuk mencegah gagal rahim dan keguguran.

5. Metode Dilatasi dan Evakuasi (D&E)
Metode ini digunakan untuk membuang janin hingga usia 24 minggu. Metode ini sejenis dengan D&C, hanya dalam D&E digunakan tang penjepit (forsep) dengan ujung pisau tajam untuk merobek-robek janin. Hal ini dilakukan berulang-ulang hingga seluruh tubuh janin dikeluarkan dari rahim. Karena pada usia kehamilan ini tengkorak janin sudah mengeras, maka tengkorak ini perlu dihancurkan supaya dapat dikeluarkan dari rahim. Jika tidak berhati-hati dalam pengeluarannya, potongan tulang-tulang yang runcing mungkin dapat menusuk dinding rahim dan menimbulkan luka rahim. Pendarahan mungkin juga terjadi. Dr. Warren Hern dari Boulder, Colorado, Amerika Serikat, seorang dokter aborsi yang sering melakukan D&E mengatakan, hal ini sering membuat masalah bagi karyawan klinik dan menimbulkan kekuatiran akan efek D&E pada wanita yang menjalani aborsi. Dokter Hern juga melihat trauma yang terjadi pada para dokter yang melakukan aborsi, ia mengatakan, “tidak dapat disangkal lagi, penghancuran terjadi di depan mata kita sendiri. Penghancuran janin lewat forsep itu seperti arus listrik.”

6. Metode Racun Garam (Saline)
Caranya ialah dengan meracuni air ketuban. Teknik ini digunakan saat kandungan berusia 16 minggu, saat air ketuban sudah cukup melingkupi janin. Jarum disuntikkan ke perut si wanita dan 50-250 ml (kira-kira secangkir) air ketuban dikeluarkan, diganti dengan larutan konsentrasi garam. Janin yang sudah mulai bernafas, menelan garam dan teracuni. Larutan kimia ini juga membuat kulit janin terbakar dan memburuk. Biasanya, setelah kira-kira satu jam, janin akan mati. Kira-kira 33-35 jam setelah suntikan larutan garam itu bekerja, si wanita hamil itu akan melahirkan anak yang telah mati dengan kulit hitam karena terbakar. Kira-kira 97% dari wanita yang memilih aborsi dengan cara ini melahirkan anaknya 72 jam setelah suntikan diberikan. Suntikan larutan garam ini juga memberikan efek samping pada wanita pemakainya yang disebut “Konsumsi Koagulopati” (pembekuan darah yang tak terkendali diseluruh tubuh), juga dapat menimbulkan pendarahan hebat dan efek samping serius pada sistim syaraf sentral. Serangan jantung mendadak, koma, atau kematian mungkin juga dihasilkan oleh suntikan saline lewat sistim pembuluh darah.
Berikut ini merupakan cara-cara aborsi yang dilakukan tanpa bantuan medis ( Abortus Provokatus Kriminalis) :
Kekerasan Mekanik :
a. Umum
 Latihan olahraga berlebihan
 Naik kuda berlebihan
 Mendaki gunung, berenang, naik turun tangga
 Tekanan/trauma pada abdomen
Wanita cemas akan kehilangan kehamilannya karena olah raga yang berlebih dan mungkin kekerasan yang berpengaruh terhadap janinnya. Aktivitas hiruk pikuk, mengendarai kuda biasanya tidak efektif dan beberapa wanita mencari kekerasan dari suaminya. Meninju dan menendang perut sudah umum dan kematian akibat ruptur organ dalam seperti hati, limpa atau pencernaan, telah banyak dilaporkan. Ironisnya, uterus biasanya masih dalam kondisi baik.

b. Lokal
 Memasukkan alat-alat yang dapat menusuk kedalam vagina : pensil, paku, jeruji sepeda
 Alat merenda, kateter atau alat penyemprot untuk menusuk atau menyemprotkan cairan kedalam uterus untuk melepas kantung amnion
 Alat untuk memasang IUD
 Alat yang dapat dilalui arus listrik
 Aspirasi jarum suntik
Metode hisapan sering digunakan pada aborsi yang merupakan cara yang ilegal secara medis walaupun dilakukan oleh tenaga medis. Tabung suntik yang besar dilekatkan pada ujung kateter yang dapat dilakukan penghisapan yang berakibat ruptur dari chorionic sac dan mengakibatkan abortus. Cara ini aman asalkan metode aseptic dijalankan, jika penghisapan tidak lengkap dan masih ada sisa dari hasil konsepsi maka dapat mengakibatkan infeksi.

C. PENYEBAB ABORSI DALAM MASYARAKAT

Faktor-faktor penyebab terjadinya kejahatan abortus provocatus kriminalis khususnya di Kota Makassar sebagai berikut :

1. Hamil di luar nikah
Kemajaun zaman yang terus berkembang pada saat ini membuat pergaulan diantara masyarakat terutama anak muda semakin tidak terkontrol. Perlakuan dan tingkah negatif yang dilarang dalam norma-norma dalam masyarakat pun menjadi tren di kalangan anak muda saat ini. Salah satunya adalah seks bebas diantara anak muda yang nantinya akan menyebabkan kehamilan diluar nikah. Salah satu jalan yang ditempuh ketika seseorang wanita hamil di luar nikah adalah abortus. Abortus dilakukan karena tidak adanya kesiapan untuk mempunyai anak dan rasa malu kepada masyarakat kerena hamil diluar nikah.
Perempuan yang melakukan abortus karena terlanjur hamil di luar nikah, hal itu disebabkan karena dua hal :
a) Laki-laki yang menaruh aib tersebut, tidak mau bertanggung jawab.
b) Laki-laki yang menaruh aib tersebut mau bertanggung jawab, tetapi malu karena pacarnya hamil duluan. Untuk melakukan abortus perempuan tersebut meminum ramuan-ramuan yang bisa menggugurkan kandungannya, akan tetapi jika cara tersebut tidak berhasil, maka mereka mencari seorang dokter atau bidan yang akan melakukan abortus .

2. Tidak Mau Berhenti atau Menghambat Sekolah
Perempuan yang terlanjur hamil akibat pergaulan bebas atau melakukan seks bebas dengan pacarnya, padahal masih dalam usia sekolah atau perguruan tinggi dan terlalu muda untuk mengasuh anak dan malu diketahui perbuatannya, akan melakukan jalan pintas dengan cara melakukan abortus karena alasan akan menghambat masa depan dan sekolah akan putus akibat diketahu oleh pihak sekolah.

3. Perempuan yang Dikhianati Oleh Pacarnya
Faktor ini masih berkaitan erat dengan faktor sebelumnya yaitu seseorang perempuan yang hamil di luar nikah, tetapi laki-laki tersebut menghianati pacarnya dengan cara laki-laki tersebut memutuskan hubungannya tanpa alasan yang jelas dan laki-laki tersebut kabur, semata-mata hanya untuk menghindari tanggung jawabnya.
Latar belakang terjadinya kehamilan seperti ini karena berkedok “demi cinta dan kesetiaan”, sehingga perempuan tersebut rela disetubuhi untuk membuktikan bahwa ia benar-benar setia pada pacarnya. Akan tetapi janji tersebut hanya rayuan di bibir saja hanya sekedar rayuan saja untuk memuaskan hasrat seksualnya. Setelah perempuan tersebut hamil maka tidak ada jalan lain selain harus menggugurkan kandungannya.

4. Belum Bersedia Punya Anak
Faktor ini umumnya terjadi bagi mereka yang memiliki profesi sebagai wanita pelajar atau mahasiswa, dengan alasan tidak mau merawat anak dan status sebagai pelajar tidak memungkinkan, maka jalan yang ditempuh adalah melakukan abortus. Abortus semacam ini, dapat terjadi karena persetujuan pacarnya atau tanpa tanpa persetujuan pacarnya.

5. Terlalu Banyan Anak
Faktor ini sering ditemui bukan pada perempuan yang hamil di luar nikah melainkan perempuan yang sudah menikah dan telah mempuyai banyak anak, dengan alasan sudah tidak mampu mengurusi anak yang sedemikian banyaknya. Daripada si anak yang akan dilahirkan nanti terlantar dan hanya menyusahkan keluarga maupun orang lain, maka ibunya memeutuskan bahwa lebih baik digugurkan saja.

6. Pertimbangan dari Laki-laki yang Menghamilinya
Laki-laki tersebut menyuruh perempuan yang hamil untuk melakukan abortus karena malu dan takut ketahuan oleh keluarganya serta untuk mengurangi tanggung jawabnya.

7. Kesulitan ekonomi
Masalah faktor ekonomi juga merupakan masalah besar baik bagi mereka yang telah memiliki anak tanpa ikatan suami istri maupun dengan yang telah ada ikatan suami istri atau sudah menikah. Khususnya pada remaja yang belum sanggup untuk membiayai dirinya sendiri dan sudah harus bertanggung jawab besar dengan memiliki anak, maka si pelaku cenderung melakukan jalan pintas yaitu dengan melakukan abortus. Sementara pada pasangan suami istri, biasanya tidak menyadari kalau konsekwensi usia subur jika tanpa diimbangi dengan alat-alat bukti kontrasepsi. Kehamilan yang terjadi dan tidak diinginkan oleh pasangan yang bersangkutan kemudiaan diusahakan untuk digugurkan dengan alasan mereka sudah tidak mampu lagi membiayai seandainya anak mereka bertambah banyak.

D. PENCEGAHAN DAN PENANGGULANGAN ABORSI

1. Upaya Preventif (Pencegahan)
Untuk mengantisipasi keadaan tersebut pihak kepolisian berusaha bertindak maksimal. Dimulai dengan rutin melakukan razia ke tempat-tempat persewaan dan penjualan VCD, untuk mencegah maraknya VCD porno di masyarakat dan juga razia pada toko-toko buku, untuk mencegah beredarnya buku-buku porno. Karena tidak mungkin dari situlah awal muasal terjadinya tindakan abortus provocatus dan melokalisasi prostitusi dengan pengawasan ketat, tetapi tetap perlu diperhatikan segi keamanaan maupun segi kesehatannya.
Pihak kepolisian dalam hal upaya menanggulangi tindak pidana tersebut, sudah melakukan beberapa hal pencegahan. Misalnya yang melalui pendekatan secara- agama. Pihak kepolisian bekerja sama dengan para pemuka-pemuka agama yang ada di dalam wilayah kerja Polres dan Polresta.
Selain melakukan pendekatan melalui tokoh-tokoh pemuka agama, pihak kepolisian juga memberikan pemahaman dan pengertian kepada pihak masyarakat dan khususnya kepada para kalangan remaja yang banyak bersentuhan dengan masalah ini. Dengan memberi pengertian bahwa tindakan abortus provocatus kriminalis adalah suatu tindakan yang melanggar hukum, dan dijelaskan pula tentang sanksi yang akan diterima oleh mereka apapun dan bagaimanapun alasannya.

2. Upaya Represif (Penanggulangan)
Upaya lain yang dilakukan pihak kepolisian adalah bekerja sama dengan pihak aparatur pemerintah yaitu menempatkan beberapa personil kepolisian di tiap-tiap kelurahan dan desa atau yang disebut dengan BAPEMKAMTIBMAS (Badan Pembina Ketertiban dan Keamanan Masyarakat). Tujuannya adalah untuk mendekatkan masyarakat dengan POLRI untuk rnemberikan informasi atau bantuan dari pihak kepolisian untuk mengungkapkan kasus-kasus tindak pidana abortus provocatus kriminalis seandainya terjadi di wilayah kelurahan masing-masing.
Dalam menghadapi kasus abortus provocatus kriminalis, pihak kepolisian juga bekerjasama dengan pihak kedokteran, Dimana banyak sekali para dokter-dokter tersebut demi mendapatkan materi menghalalkan tindakan abortus provocatus kriminalis. Diharapkan melalui pendekatan ini, pihak kedokteran bisa membantu mengurangi dan atau maksimalnya mencegah terjadinya kasus tindakan abortus provocatus kriminalis dengan memberikan penjelasan kepada pasiennya tentang bahayanya tindakan aborsi tersebut, kecuali ada indikasi medis yang mengharuskan tindakan tersebut.

BAB III
PENUTUP

1. KESIMPULAN
Melalui pembahasan dalam makalah yang telah kami paparkan diatas maka dapat di ambil beberapa kesimpulan, antara lain :
a. Aborsi di dalam KUHP merupakan tindak kejahatan atas nyawa, dan dalam UU Kesehatan aborsi diperbolehkan dalam pengecualiannya.
b. Ada dua cara dalam melakukan aborsi, yaitu yang dilakukan sesuai cara medis dan ada juga yang dilakukan secara manual (tidak sehat)
c. Terdapat banyak alasan, mengapa dalam masyarakat tindak aborsi sangat tinggi, tidak hanya di kalangan remaja namun juga bagi mereka yang sudah secara resmi menikah.

2. KRITIK DAN SARAN
1. Adanya pengaturan yang tegas, dan tidak timpang tindih mengenai aborsi
2. Untuk mencegah maraknya tindak aborsi di kalangan remja, maka dalam dunia pendidikan sangat penting adanya pendidikan budi pekerti dan moral.
3. Untuk mencegah dilakukannya tindak aborsi pada kalangan yang sudah berkeluarga, maka penting diadakannya konseling pra nikah.
4. Patroli yang kuat dari aparat hukum terhadap tempat praktek-praktek dokter kandungan.

DAFTAR PUSTAKA

http://abortus.blogspot.com/search/label/Resiko

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s