never forget you, Dad..

Waktu itu..
“selamat tinggal” adalah kata yang tak ingin aku ucapkan padamu
“selamat tinggal” adalah kata yang begitu pedih dan sengsara untukku
“selamat tinggal” sejenak mampu menjungkirbalikkan duniaku, mengubah putihku menjadi hitam, mengubah binar mata menjadi tetesan kecil di wajahku..

Namun aku memahami juga bahwa “selamat tinggal” lah yang menjadikanmu tenang, memberimu damai, memberimu kelegaan dalam peristirahatan panjangmu..
Tapi aku tak peduli denganmu, yang aku tau bahwa kau harus selalu ada untukku! Harus tetap menggendongku di kala aku lelah bermain, yang harus mengajariku naik sepeda, membantuku mengerjakan tugas, yang memarahi aku di kala aku keterusan bermain di halaman rumah bersama teman-teman, yang memaksaku untuk sekolah dan kursus bahasa inggris.. yang selalu mendengarkan padaku betapa indahnya alunan music dan kicauan burung, yang menunjukkan padaku betapa indahnya bunga-bunga di halaman rumah kita, yang selalu memanjakanku sebelum aku tidur.. yang selalu mengecup kening dikala aku bangun, yang mengajariku berdoa dan bernyanyi untuk Tuhan..
kau yang belum mengajarkanku akan getirnya hidup, akan kacaunya dunia, akan kerasnya pertemanan, akan pedihnya hinaan, akan hancurnya ketika dikhianati..
kau belum mengajarkannya……

Aku gadis kecil berbaju biru tua, menatap kosong padamu yang tak berkutik lagi di atas kasur merah..
Dengan penuh percaya aku berharap mujizat kan terjadi, agar aku dapat melihatmu tiba-tiba duduk dan merangkulku..
Namun semua hanya mimpi!! Mimpi usang yang telah berdebu di dalam kenanganku..
Aku gadis kecil yang begitu terluka, tangisanku meluap memecah istana tempat kita sehari-hari bergelut dalam bahagia dan mesrah..
dan kini hidup yang beranjak dewasa mengajariku akan semua itu..
waktu telah membawaku sampai disaat ini, di saat aku merasakan hiruk pikuknya hari-hari..
disaat “kesetiaan” seperti menjauh dariku
Aku mengingat dengan jelas, bagaimana sore di hari itu mengusikku dengan hujan yang begitu deras, bahkan hampir menyerupai badai..
aku sangat merindukan sore itu, meskipun sangat kelam namun setidaknya aku dapat melihat wajahmu yang telah kaku berada di dalam peti coklat tua..
setidaknya aku dapat mencium aroma mu yang nyaris pudar..
Aku terdiam mencoba memahami arti diammu, diam yang membeku..
Kata-kata ini bukan sebagai pertanda kesedihanku, aku hanya ingin mengingat sekali lagi tentangmu, tentang kita, dan tentang perpisahan kita yang sementara..
Karena sampai kapan pun kau tak akan pernah terlupakan..
Ayah..
🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s