ANALISA RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU TENTANG CAGAR BUDAYA DAERAH RIAU

KATA PENGANTAR

Puji syukur kami panjatkan kehadirat Tuhan Yang Maha Esa yang telah memberikan rahmat serta karunia-Nya kepada kami sehingga kami berhasil menyelesaikan Makalah kami yang berjudul “ANALISA RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI RIAU TENTANG CAGAR BUDAYA DAERAH RIAU”
Makalah ini berisi tentang hasil analisa Penulis mengenai sistematika penulisan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau.
Kami menyadari bahwa makalah ini masih jauh dari sempurna, oleh karena itu kritik dan saran dari semua pihak yang bersifat membangun selalu kami harapkan demi kesempurnaan makalah ini.

Akhir kata, kami sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah berperan serta dalam penyusunan makalah ini dari awal sampai akhir dan juga kami berterima kasih kepada Dosen Pengajar Mata Kuliah Perancangan Peraturan Perundang-undangan, Fakultas Hukum Universitas Riau, Ibu Gusliana SH, M.Hum.

Pekanbaru, 16 Maret 2013

Penyusun

Kelompok IV

DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR…………………………………………………………………………………………………….1
BAB I PENDAHULUAN
1. Latar Belakang………………………………………………………………………………………….3
2. Rumusan Masalah……………………………………………………………………………………..4
3. Tujuan dan manfaat ………………………………………………………………………………….4

BAB II PEMBAHASAN
1. Sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan
berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan……………………………………………………………….5
2. Analisa Sistematika Penulisan Rancangan Peraturan Daerah Riau berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan……………………………………………………………8

BAB III PENUTUP
1. Kesimpulan………………………………………………………………………………………….21
2. Saran…………………………………………………………………………………………………..23
DAFTAR PUSTAKA…………………………………………………………………………………………………..24

BAB I
PENDAHULUAN

1. Latar Belakang

Negara Indonesia adalah negara hukum, tidak berdasarkan kekuasaan belaka. Sebagai negara hukum, segala aspek kehidupan dalam bidang kemasyarakatan, kebangsaan, dan kenegaraan termasuk pemerintahan harus senantiasa berdasarkan atas hukum serta mendasarkan pula pada Pancasila dan Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945 dengan sistem hukumnya adalah sistem hukum kontinental sebagai warisan dari pemerintah kolonial Belanda.

Dalam mewujudkan pembentukan hukum tertulis, khususnya peraturan perundang-undangan, diperlukan tatanan yang tertib dibidang pembentukan peraturan perundang-undangan. Pembentukan peraturan perundang-undangan pada dasarnya adalah sebuah sistem, karena di dalamnya terdapat beberapa peristiwa/tahapan yang terjalin dalam satu rangkaian yang tidak terpisahkan antara satu dan lainnya. Tahapan tersebut yaitu tahap perencanaan, tahap penyusunan, tahap pembahasan, tahap pengesahan, tahap pengundangan, dan tahap penyebarluasan.

Sesuai dengan amanat Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia 1945, pemerintah daerah berwenang untuk mengatur dan mengurus sendiri urusan pemerintahan menurut asas otonomi dan tugas pembantuan. Pemberian otonomi luas kepada daerah diarahkan untuk mempercepat terwujudnya kesejahteraan masyarakat melalui peningkatan pelayanan, pemberdayaan dan peran serta masyarakat.

Peraturan Daerah (Perda) merupakan salah satu instrument penting dalam rangka pelaksanaan otonomi daerah. Perda juga merupakan peraturan pelaksana dari ketentuan peraturan perundang-undangan yang lebih tinggi, sekaligus juga merupakan bentuk nyata dari aspirasi masyarakat di suatu daerah yang dituangkan dalam bentuk hukum tertulis. 1

Pembentukan Perda merupakan serangkaian tahapan mulai dari perencanaan, penyusunan, pembahasan, pengesahan, dan pengundangan. Dalam Perancangan Peraturan Daerah haruslah mengacu kepada sistematika yang terdapat dalam Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011. Namun jika diamati setiap Rancangan Peraturan Daerah, tidak semua yang sesuai dengan sistematika yang sudah diatur dalam undang-undang tersebut. Oleh karena itu kami sebagai penulis tertarik untuk menganalisa Rancangan Peraturan Daerah, khusunya Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tahun 2009 Tentang Cagar Budaya Riau, apakah Rancangan Peraturan Daerah ini sudah sesuai dengan sistematika yang diatur dalam Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Perancangan Peraturan Perundang-Undangan atau masih memiliki kekurangan dan kesalahan.

2. Rumusan Masalah
a. Bagaimana sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011?
b. Apakah terdapat kekurangan dan kesalahan dalam Penulisan Perancangan Peraturan Daerah Riau Tentang Cagar Budaya Daerah Riau?

3. Manfaat dan Tujuan
a. Untuk mengetahui sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011.
b. Untuk mengetahui kekurangan dan kesalahan dalam Penulisan Perancangan Peraturan Daerah Riau Tentang Cagar Budaya Daerah Riau.

1 Yani, Ahmad. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Jakarta : PT.Raja Grafindo, 2011

BAB II
PEMBAHASAN

1. Sistematika Penulisan Perancangan Peraturan Perundang-undangan Berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Sistematika penulisan Perandangan Peraturan Perundang-undangan telah diatur di dalam Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Berikut adalah sistematika penulisannya:

BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan
3. Konsiderans
4. Dasar Hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (jika diperlukan)
BAB II HAL–HAL KHUSUS
A. PENDELEGASIAN KEWENANGAN
B. PENYIDIKAN
C. PENCABUTAN
D. PERUBAHAN PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN
E. PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI
UNDANG–UNDANG MENJADI UNDANG–UNDANG
F. PENGESAHAN PERJANJIAN INTERNASIONAL

BAB III RAGAM BAHASA PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN
A. BAHASA PERATURAN PERUNDANG–UNDANGAN
B. PILIHAN KATA ATAU ISTILAH
C. TEKNIK PENGACUAN

BAB IV BENTUK RANCANGAN PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. BENTUK RANCANGAN UNDANG-UNDANG PADA UMUMNYA
B. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENETAPAN PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG-UNDANG
MENJADI UNDANG–UNDANG
C. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENGESAHAN
PERJANJIAN INTERNASIONAL YANG TIDAK MENGGUNAKAN
BAHASA INDONESIA SEBAGAI SALAH SATU BAHASA RESMI
D. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PERUBAHAN
UNDANG–UNDANG
E. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENCABUTAN
UNDANG–UNDANG
F. BENTUK RANCANGAN UNDANG–UNDANG PENCABUTAN
PERATURAN PEMERINTAH PENGGANTI UNDANG–UNDANG
G. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
PENGGANTI UNDANG-UNDANG
H. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PEMERINTAH
I. BENTUK RANCANGAN PERATURAN PRESIDEN
J. BENTUK RANCANGAN PERATURAN MENTERI
K. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH PROVINSI
L. BENTUK RANCANGAN PERATURAN DAERAH
KABUPATEN/KOTA

2. Analisa Sistematika Penulisan Rancangan Peraturan Daerah Riau berdasarkan Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan

Analisa Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau dibutuhkan untuk mengetahui apakah Rancangan Peraturan Daerah tersebut sudah sesuai dnegan sistematika penulisan yang telah ditetapkan dalam undang-undang.
Berikut ini adalah hasil analisa Penulis :
A . JUDUL
Penulisan judul dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
RANCANGAN PERATURAN DAERAH (RANPERDA) PROVINSI RIAU
NOMOR 00 TAHUN 2012

TENTANG
CAGAR BUDAYA DAERAH RIAU

Ketentuan dalam penulisan Judul diatur dalam Pasal 2 dan Pasal 3yaitu
2.Judul Peraturan Perundang–undangan memuat keterangan mengenai jenis, nomor, tahun pengundangan atau penetapan, dan nama Peraturan Perundang–undangan.
3.Nama Peraturan Perundang–undangan dibuat secara singkat dengan hanya menggunakan 1 (satu) kata atau frasa tetapi secara esensial maknanya telah dan mencerminkan isi Peraturan Perundang–undangan.
4. judul Peraturan Perundang-undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin tanpa diakhiri tanda baca.

Analisa Penulis terhadap penulisan judul tersebut adalah :
1. Seharusnya pada penulisan judul tidak perlu menggunakan singkatan seperti “RANPERDA” cukup dituliskan “PERATURAN DAERAH” saja.
2. Selebihnya penulisan pada judul sudah benar.

B. PEMBUKAAN
1) Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
Penulisan frasa dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
DENGAN RAHMAT TUHAN YANG MAHA ESA

Penulisan telah sesuai dengan ketentuan Pasal 15 yang berbunyi :
15. Pada pembukaan tiap jenis Peraturan Perundang–undangan sebelum nama jabatan pembentuk Peraturan Perundang–undangan dicantumkan Frasa Dengan Rahmat Tuhan yang Maha Esa yang ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah
marjin.

2) Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan
Penulisan jabatan dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau:
GUBERNUR KEPALA DAERAH PROVINSI RIAU,

Penulisan jabatan ini telah sesuai dengan ketentuan Pasal 16, yang berbunyi :
16. Jabatan pembentuk Peraturan Perundang–undangan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital yang diletakkan di tengah marjin dan diakhiri dengan tanda baca koma.

3) Konsiderans
Penulisan konsiderans dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
Menimbang : a. bahwa cagar budaya merupakan kekayaanbudaya bangsa sebagai wujud pemikiran dan perilaku kehidupan manusia yang penting artinya bagi pemahaman dan pengembangan sejarah, ilmu pengetahuan, dan kebudayaan dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara sehingga perlu dilestarikan dan dikelola secara tepat melalui
upaya pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan dalam rangka memajukan kebudayaan Daerah Riau untuk sebesar-besarnya kemakmuran rakyat;
b. bahwa untuk melestarikan cagar budaya, Pemerintah Daerah Riau bertanggung jawab dalam pengaturan pelindungan, pengembangan, dan pemanfaatan cagar budaya;
c. bahwa cagar budaya berupa benda, bangunan, struktur, situs, dan kawasan perlu dikelola oleh pemerintah daerah dengan meningkatkan peran serta dan minat masyarakat untuk melindungi, mengembangkan, dan memanfaatkan cagar budaya;
d. bahwa dengan adanya perubahan paradigma pelestarian cagar budaya, diperlukan keseimbangan aspek ideologis, akademis, ekologis, dan ekonomis guna meningkatkan kesejahteraan rakyat;
e. bahwa berdasarkan pertimbangan sebagaimana dimaksud dalam huruf a, huruf b, huruf c, huruf dan d perlu membentuk Peraturan Daerah tentang Cagar Budaya;
analisa Penulis terhadap penulisan konsiderans menimbang tersebut adalah :
Penulisan konsiderans yang tidak rapih, tidak teratur, dan tidak sejajar.

4) Dasar Hukum
Penulisan dasar hukum dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
Mengingat : 1. Pasal 20, Pasal 21, Pasal 32 ayat (1), dan Pasal 33 ayat (3)Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun1945;
2. Undang-Undang Nomor : 4 Tahun 1982 tentang Ketentuan-ketentuan Pokok Pengelolaan Lingkungan Hidup (Lembaran Negara Tahun 1982 Nomor : 12, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 3215);
3. Undang-Undang Nomor : 9 Tahun 1990 tentang Kepariwisataan (Lembaran Negara Tahun 1990 Nomor : 8, Tambahan Lembaran Negara Nomor : 3427)
Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 11 Tahun 2010 Tentang Cagar Budaya.

Analisa Penulis terhadap penulisan dasar hukum tersebut adalah :
1. Penulisan dasar hukum tersebut tidak rapih dan teratur.
2. Dasar hukum pada angka (1) adalah tidak tepat, karena isi dari pasal pasal tersebut menyatakan kewenangan DPR dalam membuat undang-undang, bukan menyatakan kewenangan DPRD, sedangkan peraturan perundang-undangan yang dibuat ini adalah Peraturan Daerah dan DPRD lah yang memiliki kewenangan untuk membuatnya.
3. Dasar hukum pada angka (2) dan angka (3) merupakan undang-undang yang tidak berlaku lagi, sehingga tidak tepat untuk dimasukkan sebagai dasar hukum pembentukan Peraturan Daerah.
4. Dasar hukum selanjutnya ditulis di bawah angka (3) tanpa mencantumkan angka (4) di depannya.
5. Pada penulisan dasar hukum juga terdapat kekurangan karena seharusnya pada setiap akhir kalimat menggunakan tanda (;) namun pada angka (3) dan angka (4) tidak dituliskan tanda (;) di akhir kalimatnya.

5) Diktum
Penulisan diktum dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
Dengan Persetujuan Bersama
DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PROVINSI RIAU
dan
GUBERNUR KEPALA DAERAH PROVINSI RIAU
MEMUTUSKAN:

Menetapkan : PERATURAN DAERAH TENTANG CAGAR BUDAYA DAERAH RIAU

Penulisan diktum dalam Rancangan Peraturan Daerah ini telah tepat, karena telah sesuai dengan ketentuan Pasal (53), (54) yang berbunyi:
53. Diktum terdiri atas:
a. kata Memutuskan;
b. kata Menetapkan; dan
c. jenis dan nama Peraturan Perundang-undangan.
54. Kata Memutuskan ditulis seluruhnya dengan huruf kapital tanpa spasi di antara suku kata dan diakhiri dengan tanda baca titik dua serta diletakkan di tengah marjin.

Analisa Penulis terhadap penulisan dictum tersebut adalah :
1) pada penulisan kata Memutuskan dicantumkan Frasa Dengan Persetujuan Bersama DEWAN PERWAKILAN RAKYAT PROVINSI RIAU dan GUBERNUR KEPALA DAERAH RIAU yang diletakkan di tengah marjin, namun tidak perlu menggunakan spasi 2,0 diantara penulisan frasa tersebut.
2) terdapat kekurangan karena dalam frasa ini tertulis “Dewan Perwakilan Rakyat Provinsi Riau”, yang lebih tepatnya adalah “Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Riau.”
3) Pada penulisan frasa Menetapkan juga masih terdapat kekurangan karena tidak membubuhi tanda baca (.) di akhir kalimat.

C. BATANG TUBUH
Batang tubuh dalam Peraturan Perundang-undangan adalah sebagai berikut :
1. Ketentuan Umum
Penulisan diktum dalam Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau Tentang Cagar Budaya Riau adalah sebagai berikut:
BAB I
KETENTUAN UMUM

Pasal 1
Dalam Undang-Undang ini yang dimaksud dengan:
1. Cagar Budaya adalah warisan budaya bersifat kebendaan berupa Benda Cagar Budaya, Bangunan Cagar Budaya, Struktur Cagar Budaya, Situs Cagar Budaya, dan Kawasan Cagar Budaya di daratdan/atau di air yang perlu dilestarikankeberadaannya karena memiliki nilai penting bagi sejarah, ilmu pengetahuan, pendidikan, agama,dan/atau kebudayaan melalui proses penetapan.
2.Benda Cagar Budaya adalah benda alam dan/ataubenda buatan manusia, baik bergerak maupun tidak bergerak, berupa kesatuan atau kelompok, atau bagian-bagiannya, atau sisa-sisanya yang memiliki hubungan erat dengan kebudayaan dan sejarah perkembangan manusia.
3…………………..

Analisa Penulis terhadap penulisan Ketentuan Umum tersebut adalah :
1) Penulisan setiap kalimatnya yang kurang rapih dan tidak menggunakan rata kanan dan rata kiri.
2) Penulisan ayat dengan diberi nomor urut dengan angka arab sudah benar, yang menjadi kekurangan adalah karena penulisan angka arab tersebut tidak ditulis diantara tanda baca kurung.

2. Materi Pokok yang Diatur
Penulisan Materi Pokok seharusnya ditulis setelah Bab Ketentuan Umum, atau dapat juga ditulis di dalam bagian pasal-pasal Ketentuan Umum. Namun dalam Rancangan Peraturan Daerah ini tidak ditemukan apa yang menjadi Materi Pokok, hal ini tidak tertuang di dalam Ketentuan Umum.

3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
Ketentuan pidana dalam Rancangan Peraturan Daerah ini dimuat dalam BAB IX, seperti berikut :

BAB XI
KETENTUAN PIDANA

Pasal 91
Setiap orang yang tanpa izin mengalihkan kepemilikan Cagar Budaya sebagaimana dimaksud dalam Pasal 17 ayat (1) dipidana dengan pidana penjara paling singkat 3 (tiga) bulan dan paling lama 5 (lima) tahun dan/atau denda paling sedikit Rp400.000.000,00 (empat ratus juta rupiah) dan paling banyak Rp1.500.000.000,00 (satu miliar lima ratus juta rupiah).

Analisa Penulis terhadap penulisan Ketentuan Pidana adalah:
1. Penulisan setiap kalimatnya tidak rapih dan teratur dan tidak menggunakan rata kanan dan rata kiri.
2. Ketentuan pidana dalam Rancangan Peraturan Daerah ini berlaku untuk setiap orang (berlaku umum), hal ini tertuang dalam frasa setiap orang, dan ini sudah sesuai dengan ketentuan dalam Pasal (119) Lampiran II, yang berbunyi :
119. Jika ketentuan pidana berlaku bagi siapapun, subyek dari ketentuan pidana dirumuskan dengan frasa setiap orang..
3. Setiap Pasal dalam Ketentuan Pidana sudah menjelaskan dengan tegas norma larangan dan juga akibat hukum jika perbuatan tersebut dilakukan.
4. Dalam Ketentuan Pidana Ranperda ini tidak dimuat adanya norma perintah.

4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
Ketentuan Peralihan memuat penyesuaian pengaturan tindakan hukum atau hubungan hukum yang sudah ada berdasarkan Peraturan Perundang-undangan yang lama terhadap Peraturan Perundang-undangan yang baru, yang bertujuan untuk:
a. menghindari terjadinya kekosongan hukum;
b. menjamin kepastian hukum;
c. memberikan perlindungan hukum bagi pihak yang terkena dampak perubahan ketentuan Peraturan Perundang-undangan; dan
d. mengatur hal-hal yang bersifat transisional atau bersifat sementara.
Ketentuan Peralihan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini dimuat dalam BAB XII, seperti berikut:
BAB XII
KETENTUAN PERALIHAN

Pasal 107
Pengelolaan Cagar Budaya yang telah memiliki izin wajib menyesuaikan ketentuan persyaratan berdasarkan Peraturan Daerah ini paling lama 1 (satu) tahun sejak berlakunya Undang-Undang ini
Penulisan Ketentuan Peralihan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini telah tepat, karena telah sesuai dengan ketentuan Pasal (128) yang berbunyi:
128. Ketentuan Peralihan dimuat dalam Bab Ketentuan Peralihan dan ditempatkan di antara Bab Ketentuan Pidana dan Bab Ketentuan Penutup. Jika dalam Peraturan Perundang-undangan tidak diadakan pengelompokan bab, pasal atau beberapa pasal yang memuat Ketentuan Peralihan ditempatkan sebelum pasal atau beberapa pasal yang memuat ketentuan penutup.
Namun terdapat beberapa kekurangan, yaitu dalam Ketentuan Peralihan tersebut tidak dijelaskan peraturan lain yang dapat menutupi kemungkinan kekosongan hukum. Ketentuan Peralihan tersebut hanya menyatakan bahwa ketentuan lama harus menyesuaikan dengan lahirnya Peraturan Daerah ini.

5. Ketentuan Penutup
Ketentuan Penutup dalam Rancangan Peraturan Daerah ini dimuat dalam BAB XIII, seperti berikut :

BAB XIII
KETENTUAN PENUTUP

Pasal 108

Pada saat Peraturan Daerah ini mulai berlaku, semua peraturan perundang-undangan yang merupakan peraturan pelaksanaan dari Undang-Undang Yang lebih tinggi kedudukannya dinyatakan masih tetap berlaku sepanjang tidak bertentangan dengan ketentuan dalam Undang- Undang Republik Indonesia

Penulisan Ketentuan Peralihan dalam Rancangan Peraturan Daerah ini telah tepat, karena telah sesuai dengan ketentuan Pasal (136) yang berbunyi:
136. Ketentuan Penutup ditempatkan dalam bab terakhir. Jika tidak diadakan pengelompokan bab, Ketentuan Penutup ditempatkan dalam pasal atau beberapa pasal terakhir.

Namun masih terdapat kekurangan dalam penulisan Rancangan Peraturan Daerah ini yaitu karena tidak memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal (137) huruf (a) dan huruf (b) dan Pasal (138) yang berbunyi :
137. Pada umumnya Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai:
a. penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundang-undangan;
b. nama singkat Peraturan Perundang-undangan;
c. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada; dan
d. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan.
138. Penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundang-undangan bersifat menjalankan (eksekutif), misalnya, penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin, dan mengangkat pegawai.

D. PENUTUP
Penulisan bagian Penutup dalam Rancangan Peraturan Daerah ini adalah seperti berikut :

Peraturan Daerah ini mulai berlaku pada tanggal diundangkan. Agar setiap orang mengetahuinya, memerintahkan pengundangan Peraturan Daerah ini dengan penempatannya dalam Lembaran Daerah Provinsi Riau.

Disahkan di : Pekanbaru
Pada tanggal : 00 Juni 2012
GUBERNUR KEPALA DAERAH PROVINSI RIAU,

H. M. RUSLI ZAINAL
Diundangkan di Pekanbaru
Pada tanggal 00 Juni 2012

Sekretaris Daerah Provinsi Riau,
H. WAN SYAMSIR YUS
Pembina Utama Madya
NIP 19530305 197306 1 003

LEMBARAN DAERAH PROVINSI RIAU TAHUN 2012 Nomor :

Penulisan bagian Penutup dalam Rancangan Peraturan Daerah ini telah tepat, karena telah sesuai dengan ketentuan Pasal (160), (167) huruf (a), (b), (c), dan (168) yang berbunyi:
160. Penutup merupakan bagian akhir Peraturan Perundang-undangan yang memuat:
a. rumusan perintah pengundangan dan penempatan Peraturan Perundang-undangan dalam Lembaran Negara Republik Indonesia, Berita Negara Republik Indonesia, Lembaran Daerah Provinsi, Lembaran Daerah Kabupaten/Kota, Berita Daerah Provinsi atau Berita Daerah Kabupaten/Kota;
b. penandatanganan pengesahan atau penetapan Peraturan Perundang-undangan;
c. pengundangan atau Penetapan Peraturan Perundang-undangan; dan
d. akhir bagian penutup.

167. Pengundangan Peraturan Perundang-undangan memuat:
a. tempat dan tanggal Pengundangan;
b. nama jabatan yang berwenang mengundangkan;
c. tanda tangan; dan
d. nama lengkap pejabat yang menandatangani, tanpa gelar, pangkat, golongan, dan nomor induk pegawai.
168. Tempat tanggal pengundangan Peraturan Perundang-undangan diletakkan di sebelah kiri (di bawah penandatanganan pengesahan atau penetapan).
Namun terdapat kesalahan dalam penulisan bagian Penutup Rancangan Peraturan Daerah ini, yaitu karena mencantumkan gelar Haji di depan nama Rusli Zainal, hal ini tidak sesuai dengan ketentuan Pasal 167 huruf (d) yang berbunyi :
d. nama lengkap pejabat yang menandatangani, tanpa gelar, pangkat, golongan, dan nomor induk pegawai.

E. PENJELASAN
Rancangan Peraturan Daerah ini tidak memiliki penjelasan, hal ini tidak sesuai dengan Pasal 174 dan Pasal 179 Lampiran II yang berbunyi :

174. Setiap Undang-Undang, Peraturan Daerah Provinsi dan Peraturan Daerah Kabupaten/Kota diberi penjelasan.
179. Naskah penjelasan disusun bersama-sama dengan penyusunan rancangan Peraturan Perundang-undangan.

F. LAMPIRAN (jika diperlukan)
Rancangan Peraturan Daerah ini tidak memiliki lampiran.

BAB III
PENUTUP

A. Kesimpulan
1) Sistematika penulisan Perandangan Peraturan Perundang-undangan telah diatur di dalam Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 Tentang Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Berikut adalah sistematika penulisannya:
BAB I KERANGKA PERATURAN PERUNDANG-UNDANGAN
A. JUDUL
B. PEMBUKAAN
1. Frasa Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa
2. Jabatan Pembentuk Peraturan Perundang-undangan
3. Konsiderans
4. Dasar Hukum
5. Diktum
C. BATANG TUBUH
1. Ketentuan Umum
2. Materi Pokok yang Diatur
3. Ketentuan Pidana (jika diperlukan)
4. Ketentuan Peralihan (jika diperlukan)
5. Ketentuan Penutup
D. PENUTUP
E. PENJELASAN (jika diperlukan)
F. LAMPIRAN (jika diperlukan)

2) Dalam penulisan Rancangan Peraturan Daerah Provinsi Riau nomor 00 tahun 2009 masih terdapat beberapa kesalahan dan kekurangan, yaitu:
a) Penulisan kondiderans menimbang khususnya pada huruf (e) dianggap kurang tepat karena tidak sesuai dengan ketentuan Pasal (20) Lampiran II, yang berbunyi:
Pokok pikiran yang hanya menyatakan bahwa Peraturan Perundang- undangan dianggap perlu untuk dibentuk adalah kurang tepat karena tidak mencerminkan pertimbangan dan alasan dibentuknya Peraturan Perundang–undangan tersebut.

Dan juga tidak sesuai dengan Pasal (27) Lampiran II, yang berbunyi:
Konsiderans Peraturan Daerah cukup memuat satu pertimbangan yang berisi uraian ringkas mengenai perlunya melaksanakan ketentuan pasal atau beberapa pasal dari Undang–Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan pembentukan Peraturan Daerah tersebut dengan menunjuk pasal atau beberapa pasal dari Undang–Undang atau Peraturan Pemerintah yang memerintahkan
pembentukannya.
b) Penulisan dasar hukum dalam konsiderans ini terlalu banyak, hal ini tidak sesuai dengan ketentuan dalam Pasal (39) Lampiran II yang berbunyi sebagai berikut :
“Dasar hukum pembentukan Peraturan Daerah adalah Pasal 18 ayat (6) Undang-Undang Dasar Negara Republik Indonesia Tahun 1945, Undang-Undang tentang Pembentukan Daerah dan Undang- Undang tentang Pemerintahan Daerah”
c) Namun masih terdapat kekurangan dalam penulisan Rancangan Peraturan Daerah ini yaitu karena tidak memenuhi unsur-unsur yang terdapat dalam Pasal (137) huruf (a) dan huruf (b) dan Pasal (138) yang berbunyi :
137. Pada umumnya Ketentuan Penutup memuat ketentuan mengenai:
a. penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundang-undangan;
b. nama singkat Peraturan Perundang-undangan;
c. status Peraturan Perundang-undangan yang sudah ada; dan
d. saat mulai berlaku Peraturan Perundang-undangan.
138. Penunjukan organ atau alat kelengkapan yang melaksanakan Peraturan Perundang-undangan bersifat menjalankan (eksekutif), misalnya, penunjukan pejabat tertentu yang diberi kewenangan untuk memberikan izin, dan mengangkat pegawai.

A. Saran
1. Sistematika penulisan Peraturan Perundang-undangan yang terdapat di dalam Lampiran II Undang-Undang Nomor 12 Tahun 2011 sudah baik dan detail, diharapkan kedepannya Badan Legislative Daerah semakin memperhatikan sistematika penulisan rancangan Peraturan Perundang-undangan yang hendak dibuat, agar tidak lagi terdapat kekurangan dan kesalahan.
2. Dalam penulisan Ranperda harusnya rapih dan teratur.
3. Dalam pemilihan dasar hukum harusnya menggunakan dasar hukum yang tepat dan sesuai dan menggunakan undang-undang yang masih berlaku.

DAFTAR PUSTAKA

Yani, Ahmad. Pembentukan Peraturan Perundang-undangan. Jakarta : PT.Raja Grafindo, 2011

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s