Pelanggaran Kode Etik POLRI

NAMA : SERE INTAN A. SINAGA
NIM : 1009112040
MK : ETIKA PROFESI HUKUM

ANALISA PELANGGARAN KODE ETIK POLRI
“Kasus Salah Tembak Polisi Terhadap Robin Napitupulu”

A. POSISI KASUS

12 Oktober 2013 pukul 22.00 WIB, enam (6) anggota polisi sektor Tanjung Duren berhasil menangkap tersangka Zainal Arifin (32 tahun), pencuri mobil Daihatsu Gran Max di Tanjung Duren Utara. Tersangka ZA mencuri bersama seorang temannya. Udai menangkap satu orang pelaku, polisi melakukan pengembangan dan mencurigai Daihatsu Terios. Warga kemudian menunjuk kepada mobil Rush yang dikendarai Robin. Setelah didekati dan hendak diamankan mobil tersebut kabur, melihat hall tersebut anggota polisi langsung curiga dan sigap memburu mobil Robin. Menghindari hal-hal yang tidak diinginkan, Polisi langsung melepaskan tembakan empat (4) peluru ke arah pintu mobil sebelah kanan. Robin yang merupakan korban salah penembakan kemudian segera dilarikan dan dirawat di Rumah Sakit Pelabuhan Koja, Jakarta Utara.

B. ANALISA
Seorang anggota polisi berpotensi melakukan berbagai tindakan penyimpangan atau pelanggaran terhadap kode etik profesi dikarenakan kewenangan yang dimilikinya snagat besar. Etik POLRI merupakan bentuk akuntabilitas kinerja POLRI.
Dari kronologi insiden ini ditemukan kelalaian yang telah dilakukan oleh anggota Polsek Tanjung Duren, yaitu:
“Anggota Polsek tidak menanyakan terlebih dahulu kepada korban Robin bahwa benar atau tidak nya korban merupakan teman dari tersangka ZA”.
Berdasarkan kelalaian yang telah dilakukan oleh anggota Polsek tersebut maka dapat diketahui bahwa:
1. Anggota Polsek tidak melaksanakan kewajibannya yang tercantum di dalam Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 2 Tahun 2003, Pasal 4 huruf d , yang berbunyi :“melaksanakan tugas sebaik-baiknya dengan penuh kesadaran dan tanggung jawab”
Pelanggaran terhadap pasal ini polisi dapat diberikan tindakan disiplin (Pasal 8). Tindakan disiplin berupa teguran lisan dan/atau tindakan fisik atau dapat juga diberi hukuman disiplin (Pasal 9) berupa:
a. Teguran tertulis
b. Penundaan mengikuti pendiidkan paling lama 1 (satu) tahun.
c. Penundaan kenaikan gaji berkala
d. Penundaam kenaikan pangkat paling lama 1 (satu) tahun
e. Mutasi yang bersifat demosi
f. Pembebasan dari jabatan
g. Penempatan dalam tempat khususpaling lama 21 (dua puluh satu) hari.
Namun hukuman disiplin (Pasal 9) ini merupakan hukuman yang bersifat alternative.
2. Anggota Polsek melanggar kode etik POLRI, Pasal 7 huruf b, yaitu :
“anggota Kepolisian Negara Republik Indonesia senantiasa menghindarkan diri dari perbuatan tercela yang dapat merusak kehormatan profesi dan organisasinya, dnegan tidak melakukan tindakan berupa:
b. menyalahi dan/ atau menyimpang dari prosedur tugas”
karena :
Anggota Polsek yang melakukan insiden salah tembak telah diperiksa oleh Propam. Dalam pemeriksaan dilakukan konfrontir dengan Robin. Dan ditemukan adnaya kelalaian yakni “memukul dengan menggunakan pistol”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s